DEFINISI HADITS

DEFINISI HADITS

Hadits menurut bahasa : artinya “baru”. Hadits juga –secara bahasa – berarti “sesuatu yang diucapkan atau dinukil”, juga “sesuatu yang sedikit dan banyak”.

Hadits dalam bentuk jamak disebut “ahadits”.

Hadits menurut istilah ahli hadits : Apa yang disandarkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam , baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat , atau sirah beliau , baik sebelum kenabian atau sesudahnya.

Sedangkan menurut istilah ahli ushul fiqih : adalah perkataan , perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan hadits adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya . Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian [1].

  • Contoh perkataan Nabi adalah sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Perbuatan itu dengan niat, dan setiap orang tergantung pada niatnya,” (H.R Bukhari dan Muslim)

Sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga,

“(Laut itu) suci airnya dan halal bangkainya”. (H.R Ahmad dan Ibnu Majah)

  • Contoh perbuatan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah cara wudhu, shalat, manasik haji, dan lain sebagainya yang beliau kerjakan.
  • Contoh penetapan (taqrir) Nabi adalah sikap diam beliau dan tidak mengingkari terhadap suatu perbuatan, atau persetujuan beliau terhadapnya. Misalnya : Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata , “Ada dua orang yang sedang musafir, ketika datang waktu shalat dan tidak mendapatkan air, sehingga keduanya bertayamum dengan debu yang bersih lalu mendirikan shalat. Kemudian keduanya mendapati air, yang satu mengulang wudhu dan shalat sedangkan yang lain tidak mengulang. Keduanya lalu menghadap kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan semua hal tersebut. Terhadap orang yang tidak mengulang, beliau bersabda,

“Engkau sudah benar sesuai sunnah, dan sudah cukup dengan shalatmu”.

Dan kepada orang yang mengulangi wudhu dan shalatnya , beliau bersabda ,

“Bagimu pahala dua kali lipat.” (H.R Abu Dawud dan Nasa’i)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengutusnya ke Negeri Yaman, “Apa yang kamu jadikan sebagai pedoman dalam menghukumi suatu masalah ?”

Ia menjawab, “Dengan Kitabullah”.

Rasulullah bertanya , “Jika tidak kamu dapatkan dalam Kitabullah?”

Dia menjawab, “Dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam”.

Beliau bertanya lagi , “Jika tidak kamu dapatkan dalam sunnah Rasulullah maupun kitabullah ?”

Dia menjawab,”Aku akan berijtihad dengan pikiranku.” Kemudian Rasulullah menepuk dadanya dan bersabda , “Maha Suci Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasul-Nya terhadap apa yang diridhai oleh Rasulullah “. (H.R Abu Dawud)

Diriwayatkan bahwasanya , Khalid bin Al-Walid Radhiyallahu ‘anhu pernah memakan dhabb (hewan bangsa kadal namun agak besar ) yang dihidangkan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan beliau tidak memakannya . Sebagian sahabat bertanya, “Apakah diharamkan memakannya , wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Tidak , hanya karena binatang tersebut tidak ada di daerah kaumku sehingga aku merasa tidak berminat.” (H.R Bukhari dan Muslim)

  • Contoh dari sifat dan sirah Nabi , banyak sekali riwayat menerangkan tentang sifat dan tabiat beliau. Dan At-Tirmidzi menyusun sebuah buku tentang tabiat (syama’il) beliau [2].

Di antara contohnya adalah :

Dari Abi Ishaq , dia berkata, “Seorang lelaki bertanya kepada Al-Bara’ , “Apakah wajah Rasulullah seperti pedang?” Dia menjawab, “Tidak , tapi seperti rembulan.” (H.R At-Tirmidzi , dia berkata “Hadits hasan shahih”)

Dari Al-Barra’ dalam riwayat lain, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pendek dan tidak tinggi.” (H.R At-Tirmidzi , dia berkata “Hadits hasan shahih”)

Dari Jabir bin Abdullah Al-Bajali , dia berkata, “Belum pernah aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sejak aku masuk islam kecuali beliau tersenyum kepadaku.” (H.R At-Tirmidzi , dia berkata “Hadits hasan shahih”)

 

 

[1] Ushulul Hadits , Muhammad ‘Ajjaj Al-Khatib , hal.27

[2] At-Tasyri ‘ wa Al-Fiqh fi Al-Islam Tarikhan wa Manhajan, Manna’ Al-Qaththan , hal. 87-88

Sumber : Buku Pengantar Studi Ilmu Hadits ,karya Syaikh Manna’ Al-Qaththan

1 Comment

  1. Pingback: KHABAR, ATSAR, DAN HADITS QUDSI | yaqut wa marjan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s