Aku dan Sang Ranting

Aku dan Sang Ranting

Satu per satu daun-daun itu gugur

Pohon rindangpun kering tinggal ranting

Sejenak kubertanya

Mungkinkah daun-daun itu tumbuh kembali?

        Mereka yang gugur terhempas angin

        Melayang jauh menghilang

        Tak ada jejak satupun yang tertinggal

        Angin telah membawa mereka pergi

       Jauh dan semakin jauh.

Aku yang termenung bertanya

Kemanakah mereka pergi?

Indahkah tempat mereka saat ini?

Meski bukan di ranting nyaman mereka.

      Ranting kering itu terlihat lusuh

      Tak Nampak keceriaan hiasi tubuh coklatnya

      Tak ada lagi padu padan hijau melambai-lambai

      Namun, ia tetap kokoh melawan angin.

Sang ranting yang sepi

Begitu sabar menanti

Ia tak diam, dibalik diamnya.

Hingga tumbuhlah si kecil hijau di sisinya.

      Aku berbisik lirih padanya

      Ranting, kini kau tak sendiri lagi

      Mereka yang pergi tinggalkanmu

      Telah terganti dengan tunas yang lebih baik

       Kaupun terlihat lebih indah kini.

Sang ranting pun menjawab

Manusia, Allah yang telah menggugurkan mereka

Allah pula yang telah membuatku bersabar

Saat aku sendiri, aku tak pernah sendiri manusia…

Aku sadar Allah ingin aku tetap tegar

Aku sadar Allah punya rencana indah untukku

Dan lihatlah daun-daun ini lebih indah dari yang dahulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s